Syekh Abdullah Meminta Bantuan Di Sosial Media

Syekh Abdullah Meminta Bantuan Di Sosial Media

Berita Terbaru – Anggota Keluarga Kerajaan Qatar, Syekh Abdullah bin Ali Al Thani melaunching video lewat sosial media masalah ketidakadilan yang diterimanya waktu ada di Abu Dhabi. Syekh Abdullah menyebutkan, dia diperlakukan seperti seseorang tahanan oleh pihak Uni Emirat Arab walau sebenarnya dia mempunyai aset di negara itu.

Syekh Abdullah Meminta Bantuan Di Sosial MediaSyekh Abdullah lewat video itu mengingatkan, jika suatu hal berlangsung kepadanya jadi yang bertanggungjawab yaitu Syekh Mohammed mengacu pada Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed seperti ditulis situs Aljazeera.

” Saya ada di Abu Dhabi sekarang ini. Saya yaitu tamu Syekh Mohammed tetapi saya nampaknya tidak lagi diperlakukan jadi seseorang tamu, saya saat ini seperti tahanan, ” kata Syekh Abdullah.

Video itu lalu dengan cepat menyebar di sosial media.

” Mereka memaksa saya tidak meninggalkan tempat ini. Saya takut suatu hal juga akan berlangsung pada saya serta orang Qatar yang dapat disalahkan. Oleh karenanya apabila ada suatu hal yang berlangsung pada saya, Qatar yaitu pihak yang tidak bersalah sekalipun, ” tuturnya.

Syekh Abdullah adalah putra dari Emir Qatar yang memerintah pada tahun 1960-an yakni Syekh Ali bin Abdullah Al Thani. Dia memanglah sampai kini tidak menonjol tetapi lalu jadi di kenal sesudah berlangsung krisis Qatar mulai sejak tahun kemarin.

Syekh Abdullah jadi figur yang mengambil perhatian lantaran sesudah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain serta Mesir memblokade Qatar dari jalinan lewat darat serta udara, Abdullah malah seringkali keluar di tv Saudi serta Uni Emirat Barat. Alih-alih dia membela Qatar, Syeikh Abdullah jadi relatif memberi dukungan dijatuhkannya sangsi pada Qatar, negara aslinya itu.

Pemerintah Myanmar Menerima Kembali Namun Warga Rohingya Ragu

Pemerintah Myanmar Menerima Kembali Namun Warga Rohingya Ragu

Berita Terbaru – Seorang petani berumur 71 tahun masyarakat Rohingya, pertama kalinya kabur dari Myanmar ke Bangladesh pada tahun 1992. Dirinya lalu kembali pada rumahnya satu tahun lalu dibawah perjanjian repatriasi atau pemulangan kembali yang disetujui pemerintah Myanmar serta Bangladesh.

Pemerintah Myanmar Menerima Kembali Namun Warga Rohingya RaguTetapi, September 2017 lalu, ia mesti kembali mengulangi mengungsi ke Bangladesh waktu kekerasan kembali berlangsung.

Hari ini, 15 Januari 2018, petinggi Myanmar serta Bangladesh kembali berjumpa untuk mengulas aplikasi perjanjian yang di tandatangani 23 November 2017 lantas supaya kembalikan 650 ribu warga Rohingya yang melarikan diri karena kekerasan militer Myanmar.

Hussain yaitu satu diantara warga etnis Rohingya yang mengakui takut kalau penyelesaian ini tidak tambah baik dari yang terlebih dulu. Dia cemas kekerasan kembali berlangsung.

” Pemerintah Bangladesh memberikan keyakinan kalau Myanmar juga akan kembalikan hak-hak kami supaya bisa hidup dengan damai. Kami kembali tapi tak ada yang beralih. Saya juga akan kembali sekali lagi cuma bila hak serta keamanan kami terjamin untuk selama-lamanya, ” kata Hussain yang masih tetap ada di satu kamp pengungsi sementara dibagian tenggara Bangladesh.

Myanmar yang ditempati sebagian besar beragama Buddha sudah bertahun-tahun menampik kewarganegaraan Rohingya termasuk juga berikan mereka kebebasan. Akses pada layanan dasar seperti perawatan kesehatan serta pendidikan sangat terbatas. Mereka dipandang jadi imigran ilegal dari Bangladesh serta beberapa besar beragama Islam.

Pihak berwenang menyebutkan kalau beberapa orang yang kembali bisa memajukan kewarganegaraan bila mereka bisa tunjukkan kalau leluhur mereka sudah tinggal di Myanmar. Tetapi dalam perjanjian paling akhir, seperti yang sempat disetujui pada 1992, nyatanya tak ada jaminan masalah kewarganegaraan itu.

Sesaat pada pertemuan hari ini di ibu kota Myanmar, Naypyitaw, juga akan jadi yang pertama untuk kelompok kerja paduan ke dua negara yang dibuat untuk meyakinkan perjanjian pemulangan kembali Rohingya ke Rakhine.

” Pemulangan kembali ini juga akan kacau serta rumit. Tantangannya yaitu membuat lingkungan yang kondusif buat mereka kembali, ” kata Shahidul Haque, petinggi tinggi Kementerian Luar Negeri Bangladesh seperti diambil dari Channel News Asia.

Juru bicara pemerintah Myanmar, Zaw Htay menyebutkan kalau beberapa orang yang kembali nanti bisa memajukan kewarganegaraan sesudah lewat verifikasi.

” Repatriasi pertama itu penting, kita dapat belajar dari pengalaman, baik atau jelek, ” tutur Zaw Htay.

Erupsi Yang Cukup Dahsyat Warga Kaki Gunung Mayon Mengungsi

Erupsi Yang Cukup Dahsyat Warga Kaki Gunung Mayon Mengungsi

Berita Terbaru – Gunung Mayon yang disebut gunung berapi di Filipina erupsi serta tingkat erupsi itu diprediksikan selalu bertambah sampai Senin, 15 Januari 2018. Beberapa vulkanolog memperingatkan kalau erupsi itu dapat menjangkau puncaknya pada beberapa hari ke depan.

Erupsi Yang Cukup Dahsyat Warga Kaki Gunung Mayon MengungsiSampai 12 ribu orang dijelaskan telah meninggalkan tempat tinggal mereka serta mengungsi ke lokasi aman seperti diambil dari laman Telegraph.

Getaran vulkanis serta reruntuhan batu serta magma mengguncang puncak gunung Mayon dalam 24 jam paling akhir. Sebelumnya berlangsung beberapa kali erupsi ringan.

Masyarakat setempat dievakuasi ataupun mengevakuasi sendiri sampai jarak 4 mil atau 7 Kilometer dari lokasi itu. Dijelaskan juga ada potensi awan dengan gas beracun sampai lumpur panas yang beresiko.

” Beresiko untuk keluarga untuk tetaplah tinggal di radius yang masih tetap dijangkau asap beresiko, ” kata otoritas setempat Claudio Yucot.

Gunung Mayon ada sekitaran 330 Kilometer dari Kota Filipina. Waktu erupsi dijelaskan pernah turun hujan di tempat yang buat efek erupsi tidak sangat parah. Paling akhir, gunung Mayon juga erupsi pada tahun 2014 yang mengakibatkan sampai 63 ribu orang mengungsi.

Di Sydney Ditemukan Sepasang Kekasih Tewas

Di Sydney Ditemukan Sepasang Kekasih Tewas

Berita Terbaru – Seorang wanita yang masih muda di ketahui datang dari Inggris diketemukan meninggal di sisi pacarnya di Sydney, Australia. Kepalanya bertumpu dibagian leher serta bahu pacar dengan tempat mereka layaknya sedang berangkulan. Meninggalnya pasangan tersebut diduga sesaat karena bunuh diri bersama-sama.

Di Sydney Ditemukan Sepasang Kekasih TewasSi wanita yang berumur awal 20-an diketemukan tewas lunglai di samping kekasihnya yang berumur 30 tahunan di satu flat dibagian Newtown seperti dibenarkan Kepolisian setempat, ditulis Mirror.

Pasangan itu diketemukan yang memiliki flat yang segera membunyikan alarm sesudah melihat keadaan tragis itu pada sekitaran jam 17. 30 waktu setempat. Petugas medis segera mendatangi tempat. Apartemen itu ada diatas restoran Persia di King Street.

Kepolisian New South Wales mengira mereka tewas bukanlah karna dibunuh.

” Sampai sekarang ini menurut kami yang paling mungkin saja yaitu bunuh diri, ” kata Inspektur Geoff Olsen.

Sesaat Kedubes Inggris segera dihubungi untuk mencari tahu kewarganegaraan si wanita serta dia memanglah benar yaitu warga Inggris. Keluarganya dijelaskan telah dihubungi oleh pihak yang berwenang.